Rusia pada Kamis menentang keputusan sejumlah negara Barat dan Timur Tengah yang tergabung dalam kelompok "Sahabat Suriah (Friends of Syiria)" untuk meningkatkan bantuan terhadap kelompok oposisi moderat Suriah dan menyebutnya sebagai "destruktif".
Sebelumnya, kelompok negara "Sahabat Suriah" bertemu di London dan sepakat untuk meningkatkan bantuan terhadap kelompok oposisi moderat yang menentang kekuasaan Presiden Bashar al-Assad.
"Tidak seperti rekan kami di Barat, kami bekerja sama dengan semua pihak di Suriah, tidak hanya dengan satu kelompok saja," kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov sebagaimana dikutip dari kantor berita Interfax.
"Bagi kami, pendekatan hanya dengan salah satu pihak itu adalah tindakan yang destruktif," kata Bogdanov.
Rusia, yang mempunyai hak veto di Dewan Keamanan PBB, selama tiga tahun terakhir ini memang memberi pemerintah Suriah dukungan krusial. Moskow berulang kali menghentikan upaya negara Barat dan Timur Tengah untuk menggulingkan Bashar.
Sementara itu di London, selain berkomitmen meningkatkan dukungan terhadap oposisi, "Sahabat Suriah" juga mengecam rencana Bashar untuk menggelar pemilu presiden pada 3 Juni mendatang di tengah perang saudara.
"Rencana pemilu tersebut adalah lelucon yang menghina dan palsu," kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry setelah pertemuan tersebut.
Pernyataan bersama dari 11 negara yang terlibat di London itu menyebut pemilu itu sebagai pergelaran "yang tidak sah" dan merupakan "parodi demokrasi." Mereka juga mendesak masyarakat internasional untuk menolak apapun hasilnya.
Kesebelas negara yang tergabung dalam "Sahabat Suriah" adalah Inggris, Mesir, Prancis, Jerman, Italia, Yordan, Qatar, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan bahwa "Sahabat Suriah" berniat "untuk meningkatkan upaya pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa mempertimbangkan keberatan dari pihak rezim (Bashar)." Pemerintah Suriah sendiri dinilai sering menghambat pengiriman bantuan makanan dan sejumlah peralatan lainnya dari badan internasional kepada masyarakat sipil yang semakin putus asa. Amerika Serikat, yang menyediakan bantuan kemanusiaan senilai 1,7 milyar dolar AS, menyatakan frustasi atas hal tersebut.
"Bantuan tidak sampai ke tangan orang yang membutuhkan. Bantuan itu harus melalu satu pintu, yaitu Damaskus, dan dikontrol oleh rezim Bashar. Ini tentu saja tidak dapat diterima," kata Kerry.
Suara yang sama juga sempat dinyatakan pada pekan lalu oleh direktur pelaksana bantuan PBB di Suriah, John Ging. Dia menuduh pemerintah Bashar telah membolkade bantuan medis yang ditujukan kepada penduduk wilayah kelompok oposisi.(ant/vaa)
No comments:
Post a Comment